Memilih Mikrotik Sebagai OS Router

Berikut ini beberapa alasan saya memilih OS Mikrotik, khususnya Mikrotik Router Board(RB) dibanding OS Linux yg lain sebagai OS untuk router. Alasan yang saya utarakan ini lebih kepada kelebihan yang ada di Mikrotik, khususnya Router Board :

– “Auto Power on”.
Karena seringnya mati listik dan ketika listrik hidup saya tidak mau direpotkan dengan hal teknis yaitu tidak perlu secara manual menghidupkan router (dg mendatangi router). Sehingga saya ingin si router juga up secara otomatis ketika listrik sudah nyala. Jika menggunakan RB, RB akan otomatis nyala ketika listrik sudah hidup, tidak perlu dinyalakan manual, hal ini terkait dengan letak router yg posisinya dibanyak tempat dan ada yg jauh.
Jika menggunakan PC sebagai router, tidak semua PC support auto power on, ada yg support dan ada yg tidak.


– Radius Client Support Multi Interface.
Saya memerlukan router yang juga ingin saya jadikan NAS (Radius client) dan support multi interface untuk settingan hotspot pada interface downlinknya. Karena ada beberapa router yg melayani lebih dari 1 network (lebih ke pembagian network) pada interface downlinknya dan di setting hotspot pada interface-interface tersebut. Ketika saya menggunakan PC sebagai router untuk dijadikan NAS, dengan menggunakan baik itu program chillispot ataupun coovachilli sejauh saya mencoba tidak bisa mendukung network lebih dari 1 atau lebih dari 1 interface pada downlinknya untuk dijadikan hotspot (hanya support 1 network atau 1 interface).

– Tidak Memakan Tempat.
Bentuk RB yang kecil sehingga memudahkan dalam penempatan dan tidak memerlukan space yg luas, bahkan bentuknya lebih kecil dari switch 8 port. Bentuk yang seperti ini menjadikan alasan tersendiri bagi saya untuk memilihnya sebagai router.

– Banyak Interface.
Di RB terdapat 5 interface (RB450G), sehingga dengan interface yang cukup banyak ini bisa digunakan untuk beberapa network (1 Uplink dan 4 Downlink). Dan juga tidak perlu menambahkan interface jika sewaktu-waktu ada penambahan network.

– Interface Giga.
Interface yang digunakan RB (RB450G) sudah interface Giga (OnBoard). Sehingga jika suatu saat ada kebijakan perangkat-perangkat yang ada dilakukan upgrade interfacenya ke Giga, maka tidak perlu lagi ada penggantian perangkat (dari segi interface).

– Mudah Konfigurasi.
Dengan dimanjakan oleh aplikasi winbox (setting mikrotik mode “GUI”) menjadikan RB mudah dan cepat untuk dikonfigurasi 🙂

– Mudah Akses.
Dengan adanya fitur “webconfig” pada versi 5.X keatas, menjadikan RB bisa diakses lewat web (berbasis web), sehingga RB bisa diakses di desktop Linux (tdk memerlukan winbox)

Point-point diatas adalah beberapa alasan mengapa saya memilih OS Mikrotik (RouterBoard) sebagai router :-). Mungkin dari point-point yang saya sampaikan ada yg menyanggah atau ada yg menambahkan, silahkan untuk menyampaikan pada komentar dibawah 🙂

2 Thoughts on “Memilih Mikrotik Sebagai OS Router

  1. anang on 28 August 2012 at 13:17 said:

    ya bagus pakai RB tpi saya pakai DOM jadi pakai PC soalnya, lebih awet mas.

    weheheheheheheee

    • kl DOM harus menyediakan PC tapi resource bisa tinggi, kl RB langsung tinggal pakai dan kecil (ruang sedikit) 🙂
      kedua nya sama-sama mempunya kelebihan dan kekurangan
      dikembalikan ke kita, sesuaikan dengan kebutuhan kita 🙂

Tambahkan Komentar

Post Navigation