Fokus Pada Fitrah

Sudah lama saya tidak naik kereta, pekan kemarin saya ada kegiatan di jakarta dan ingin merasakan situasi naik kereta yang katanya sudah berbeda jauh kondisinya dengan dulu. Dan kebetulan kemarin ketemu tulisan yang bagus tentang analogi manajemen pendidikan dengan manajemen kereta api.

Dulu, sebagian penumpang commuter line di jabodetabek, gemar betul naik di atas atap kereta. PT. KAI fokus menyelesaikan masalahnya dengan berbagai cara. Ditugaskanlah Polisi Khusus untuk mencegah para penumpang naik ke atas atap kereta, bahkan kadang menggunakan pentungan untuk menghela penumpang atap untuk turun, namun tetap saja para penumpang “nakal” itu naik ke atas atap kereta.

Lalu, dipasanglah kawat berduri di atap peron yang membatasi antara peron dan atap kereta, agar para penumpang “bandel” itu tidak lagi memanjat naik ke atas atap kereta, namun tetap saja banyak yang naik ke atas atap kereta. Padahal alumni penumpang atap kereta ini sudah banyak yang “mati sangit” tewas tersambar billboard, terowongan bahkan kabel listrik tegangan tinggi. Seolah tidak ada kapok kapoknya.

Belakangan PT KAI menyadari, bahwa hanya fokus pada masalah dan langsung melompat untuk menyelesaikan masalah ternyata tidak menyelesaikan masalah bahkan malah menambah masalah. Direksi KAI kemudian kembali fokus kepada “fitrah diri” dan “fitrah penumpang”, maksudnya adalah KAI mulai menanyakan ke dalam dirinya apa sesungguhnya “fitrah” commuter line sebuah transportasi publik massal dan sekaligus menyelami kebutuhan fitrah penumpang.

Mereka bergerak hijrah dari sibuk “bagaimana mengatasi masalah” kepada berempati menggali mendalam sebanyaknya “mengapa masalah terjadi”, kemudian menangkap benang merah kebutuhan dan potensi terbaiknya kemudian menggagas idea idea kreatif untuk solusinya.

KAI mulai kembali ke fitrah, berefleksi bertanya, apa sesungguhnya “Fitrah layanan tranportasi massal publik” ? Apa sesungguhnya “Fitrah Penumpang layanan tranportasi publik”?

Ternyata fitrah mereka adalah menyediakan layanan yang cepat, tepat waktu, murah, aman, nyaman, bersih, berAC dstnya. Ini pula ternyata kebutuhan mendasar para “fitrah” penumpang angkutan massal.

Kemudian digalilah idea idea kreatif, dieksplorasi berbagai potensi kebaikan yang bisa dikembangkan agar memenuhi kebutuhan sehingga kemudian bisa dirancang ide ide untuk menjadi solusinya.

Tak berapa lama, Commuter Line Jabodetabek muncul dalam wajah yang sama sekali berbeda. Kereta nampak bersih mentereng, aman dan nyaman juga tepat waktu. Petugas kebersihan secara berkala mondar mandir membersihkan kaca jendela, lantai dan semua sisi dalam gerbong. Pintu kereta selalu tertutup saat akan berjalan, polisi khusus tetap ada tetapi untuk melindungi bukan memukuli hingga membuat rasa aman.

Tidak ada lagi pedagang lalu lalang bahkan makan minumpun dilarang, disediakan iklan layanan berupa LCD di setiap gerbong melahirkan rasa nyaman. Rute perjalanan bertaburan di dinding gerbong, kursi prioritas disediakan di setiap gerbong, sementara keberadaan gerbong khusus wanita tetap ada. Selain itu suara ramah petugas yang senantiasa memberi info apapun yang dibutuhkan penumpang.

Ternyata kondisi “kembali ke fitrah: ini bukan hanya pada gerbong kereta api, namun juga stasiun keretanya “disulap” menjadi sangat bersih, aman dan nyaman. Sim salabim!! Kini tdak ada lagi penumpang yang mau naik di atas atap kereta. “Ngapain juga lagi, kan di dalam nyaman dan bersih, aman lagi”.

Ternyata ketika KAI fokus pada fitrah dirinya dan menangkap kebutuhan serta potensi penumpang kemudian keduanya dikontekskan maka serta merta masalah menjadi hilang.

Nah, begitulah praktek pendidikan berbasis fitrah, tidak fokus pada masalahnya, namun fokus menemukan fitrahnya. Tidak meloncat kepada solusi, tetapi berangkat dari menemukan “Why”. Semakin dalam menggali menemukan WHY atau Fitrah, maka semakin baik solusi yang dibuat.

Begitulah sunnatullahnya segala sesuatu di muka bumi, apapun itu akan membaik jika kembali ke fitrahnya, kepada kesejatian perannya. AlBathil akan menyingkir jika alHaq membesar. Kegelapan akan sirna jika ada Cahaya.

Karenanya ketika ananda bermasalah, janganlah langsung fokus kepada tergesa menyelesaikan masalahnya karena akan menimbulkan banyak masalah baru, namun mulailah dengan berempati mendalam menemukan “why” nya, menemukan kebutuhan hakikinya, membangkitkan potensinya dstnya.

Ajak ananda untuk dialog dan interview, turunkan ego serendahnya, gunakan kacamata fitrah, tajamkan firasat dan beningkan hati dstnya sehingga ditemukan benang merah kebutuhan dan potensinya.

Dari kebutuhan di atas, lalu munculkanlah idea idea cemerlang untuk kelak dijadikan solusi dan diwujudkan menjadi rancangan aksi atau aktifitas.

Lalu, beranilah untuk segera memulai mengeksekusi rancangan aksi agar bisa segera dievaluasi dan direfleksikan kembali untuk kemudian menjadi rancangan aksi atau kegiatan kembali.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Tambahkan Komentar