8 FITRAH MANUSIA YANG HILANG

Setidaknya ada 8 fitrah / kodrat manusia yang gagal dibangkitkan, rentan hilang dan menyimpang serta terkubur akibat kurikulum pendidikan formal dan sekolah yang diseragamkan, yaitu :

1. Fitrah Keimanan

Agama sudah dipisahkan dari moral dan kehidupan, bahkan tidak menyatu dengan sains. Ketika orang berbicara tentang agama, maka agama hanya dianggap sebagai kumpulan ibadah ritual yang menolak dunia, menolak sains, dan sisi ekstrim lainnya. Mereka mengatakan bahwa agama adalah hasil pengalaman hidup dan kebudayaan manusia. (pent) bisa kita lihat dalam kurikulum pendidikan kita, dimana jam pelajaran agama hanya seminggu sekali dalam 2 jam, bahkan kini ada wacana pemerintah untuk menghilangkan jam pelajaran agama dengan alasan untuk menekan radikalisme.

2. Fitrah Belajar

Fitrah ini umumnya hilang sejak hilangnya gairah belajar, gairah bernalar, kesukaan meneliti hingga melahirkan sebuah inovasi. Umumnya anak anak kita belajar di sekolah karena ada ujian, karena ada ulangan, karena ada silabus pendidikan, karena ingin juara, karena ingin rangking dan sebagainya. Para mahasiswa membuat skripsi sebagai karya terakhir dan satu satunya sepanjang hidupnya hanya untuk agar bisa lulus kuliah dan mendapat gelar. Para guru juga hilang fitrah belajar dan nalarnya karena harus mengajar sesuai tupoksi, karena ingin sertifikasi agar mendapat gaji lebih tinggi, karena ingin naik jabatan dan seterusnya.

3. Fitrah Bakat

Umumnya anak kita jarang diamati sifat bawaannya, tidak diberi aktivitas yang relevan dengan bakatnya, bahkan terkadang peran profesinya tidak nyambung dengan potensi dan bakatnya karena salah jurusan.

4. Fitrah Perkembangan

Tahapan perkembangan anak gagal di intregasikan dengan tahapan persekolahan. Misalnya PAUD dan TK yang seharusnya menjadi tempat bermain lebih dijadikan ajang pendidikan persiapan masuk SD. Maka dijejalih anak dengan belajar membaca, menulis dan berhitung. Dan berjamuran pula lembaga eksternal CALISTUNG untuk memfasilitasi orang tua yang anaknya ingin lebih cepat pintar dan diterima di SD favorit. Padahal sesungguhnya PAUD dan TK dibentuk untuk memfasilitasi anak agar tumbuh utuh dan paripurna di usianya yang dini. Meskipun pemerintah melalui DIKNAS sudah mengeluarkan UU tentang larangan mengajar CALISTUNG pada PAUD dan TK serta larangan tes CALISTUNG ketika masuk SD tapi budaya ini sudah massive dan tidak terbendung. Orang tua sebenarnya dilema, karena kasihan pada anaknya yang digembleng dengan ajaran yang seharusnya belum mereka butuhkan, tapi mereka juga malu jika anaknya tidak bisa membaca, menulis dan berhitung seperti orang tua lain kebanyakan sehingga gagal masuk SD favorit

Tidak hanya disini kegagalan integrasi tahapan pendidikan modern. Karena ada tahapan perlambatan kedewasaan anak didik atau pembocahan yang terlalu panjang (infantization) berupa kelas remaja usia 12-24 tahun yang melahirkan remaja galau dan rentan penyimpangan. Ini adalah rekayasa sosial untuk memperlambat usia produktif dan melahirkan generasi aqil baligh yang bersamaan demi kepentingan industry.

5. Fitrah Seksualitas

Fitrah kelelakian atau fitrah keayahan dan fitrah keperempuanan atau fitrah kebundaan seringkali dijumpai hilang. Kasus kasus LGBT dan penyimpangan seksual, siswa hamil diluar nikah, baik pada pelaku maupun korban umumnya terjadi karena terlewatnya fitrah seksualitas karena sistem ini. Elly Risman menyebut negeri ini adalah negeri fatherless country, dimana fitrah keayahan mulai memudar karena para ayah hanya menjadi pencari nafkah, bukan lagi seorang leader. Begitu pula fitrah kebundaan, banyak wanita saat ini yang tidak siap menjadi ibu bagi penerus generasinya.

6. Fitrah Alam

Potensi keunggulan lokal hanya dianggap pengetuan lokal atau muatan lokal. Anak anak desa bukan didorong untuk mengembangkan kearifan lokal daerahnya tapi malah terjadi urbanisasi sehingga pindah ke kota kota besar dan hidup disana sepanjang hayatnya. Karena mereka tidak diajarkan cara membangun desanya melalui keunggulan desanya.

7. Fitrah Kearifan

Proses pendidikan atau kurikulum formal yang seragam, umumnya tidak relevan dengan realitas sosial dan tidak mampu menjawab problematika sosial di masyarakat. Anak anak didik umumnya hanya bersosial di ruang ruang kelas dan sekolahnya, mereka tercerabut dari akar keluarga dan masyarakat. Mereka umumnya tidak memahami dinamika serta problematika masyarakat yang terjadi di sekitarnya.

8. Fitrah Zaman

Pendidikan yang ada tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Tekhnologi modern digunakan namun tidak menjadi kearifan hidup. Di barat ini disebut sebagai 21st century skill.  Anak anak diberikan gadget untuk merusak fitrahnya. Bukan memanfaatkannya untuk menumbuhkan fitrahnya.

Tambahkan Komentar